Kamis, 23 Juni 2022

KONSEP DASAR KEPEMIMPINAN & ORGANISASI

Potret gaya kepemimpinan biasanya lebih dominan pada gaya kempemimpinan demokratis ini ditandai dengan adanya kriteria sebagai berikut:

1. Wewenang pemimpin tidak mutlak

2. Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan

3. Keputusan dan kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan

4. Interaksi aktif antara pimpinan dan pegawai serta antar pegawai itu sendiri.

5. Supervisi sikap dan aktivitas para pegawai dilaksanakan sesuai dengan aturan.

6. Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan

7. Saling percaya, menghargai dan menghormati setiap tindakan yang dilakukan oleh pimpinan maupun pegawai.

Dari paparan criteria diatas penulis ingin coba membahas, bagaimana bentuk aplikatif yang dilakukan oleh kepala madrasah dalam upaya menerapkan kepemimpinan demokratis. Adapun paparannya sebagai berikut

a. Wewenang pemimpin tidak mutlak Kepala madrasah selalu memberikan wewenang kepada bawahannya sesuai dengan TUPOKSI masing[1]masing bawahannya. Artinya kepala madrasah selalu menempatkan semua bawahan apa yang harus menjadi wewenang bahwannya. Sehingga apa yamg suda menjadi tugas dan tanggung jawab bawahan itu sendiri dapat terealisasikan dengan baik.

b. Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan Seperti yang suda dijelaskan pada bagian pertama, artinya dapat terjalin sebuah pembagian tugas yang efektif, sehingga kepala madrasah merasa tidak hanya memikul beban tugas secara sendirian tetapi ada pemerataan tugas yang dilaksanakan oleh seluruh komponen yang ada di madrasah.

c. Keputusan dan kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan Selalu menerima saran dan tanggapan dari bawahan saat rapat dan forum lainnya. Ini dibuktikan dengan selalu membuka sesi atau bagian tanya jawab dalam pelaksanaan musyawarah badan mufakat yang dilakukan sehinggga apapun hasil dari rapat atau musyawarah tersebut dapat diterima dengan baik oleh semua anggota rapat tersebut dan tidak ada kesan yang menjurus pada pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh kepala madrasah ataupun tidak terjadi pengambilan keputusan secara sepihak.

d. Interaksi aktif antara pimpinan dan pegawai serta antar pegawai itu sendiri.

e. Selalu melakukan musyawarah dan mufakat, dan tidak pernah mengambil keputusan secara sepihak. Sehingga komunikasi yang terjalin terjadi secara timbal balik, baik yang terjadi antara pimpinan dan bawahan maupun sesama bawahan. Ini merupakan sebuah budaya baru yang diterapkan oleh kepala madrasah sebagai pemegang otorias tertinggi di madrasah.

f. Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara wajar Memberikan teguran yang membangun dari tidak menyakiti hati bawahan, contohnya jika ada bawahan yang terlambat tidak langsung ditegur dengan keras tetapi diberikan pengertian dan pembinaan yang membangun sehingga bawahan tidak sakit hati dan dapat dengan mudah memperbaiki kesalahannya dengan baik.

g. Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan Kepala madrash selalu memberikan kesempatan kepada bawahan untuk menyampaikan prakarsa sehingga gagasan cermerlang tidak hanya lahir dari pemimpin. Sehingga dengan adanya saran tersebut mungkin ada hal-hal yang terlewatkan dan dilupakan oleh kepala madrasah dapat dilakukan secara bersama-sama dengan langkah-langkah yang efektif.

h. Peluang sangat terbuka lebar bagi para pegawai dalam memberikan saran atau opini; Pekerjaan yang ditugaskan kepada pegawai tidak bersifat perintah, melainkan amanat.

i. Selalu menerima saran dan tanggapan dari bawahan saat rapat dan formum lainnya. Sehingga bawahan merasa dihargai dan ditanggapi dalam penyampaian gagasan dan masukan kepada pemimpin. Dan yang paling besar efek yang dirasakan pada sikap ini adalah terjalin sifat saling menghargai dari semua komponen yang ada di madrasah.

j. Saling percaya, menghargai dan menghormati setiap tindakan yang dilakukan oleh pimpinan maupun pegawai.

k. Percaya dan menghormati semua yang dilakukan oleh bawahan sehingga bawahan tidak pernah takut menyampaikan gagasan. Kepercayaan yang dibangun ini akan melahirkan sifat percaya diri bagi pemimpin sehingga bawahan tidak risih atau sungkan untuk melakukan tugas dan fungsinya dalam madrasah.


Source: Badu, Syamsu Q, and Novianty Djafri, Kepemimpinan & Perilaku Organisasi, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAGAIMANA CARA MENJADI SEORANG PEMIMPIN YANG BAIK?

Model kepemimpinan Maxwell (2012) ini mencakup lima (5) syarat pemenuhan untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, yaitu: 1. Disiplin Disipl...