Potret
gaya kepemimpinan biasanya lebih dominan pada gaya kempemimpinan demokratis ini
ditandai dengan adanya kriteria sebagai berikut:
1.
Wewenang pemimpin tidak mutlak
2.
Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan
3.
Keputusan dan kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
4.
Interaksi aktif antara pimpinan dan pegawai serta antar pegawai itu sendiri.
5.
Supervisi sikap dan aktivitas para pegawai dilaksanakan sesuai dengan aturan.
6.
Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan
7.
Saling percaya, menghargai dan menghormati setiap tindakan yang dilakukan oleh
pimpinan maupun pegawai.
Dari
paparan criteria diatas penulis ingin coba membahas, bagaimana bentuk aplikatif
yang dilakukan oleh kepala madrasah dalam upaya menerapkan kepemimpinan
demokratis. Adapun paparannya sebagai berikut
a.
Wewenang pemimpin tidak mutlak Kepala madrasah selalu memberikan wewenang
kepada bawahannya sesuai dengan TUPOKSI masing[1]masing
bawahannya. Artinya kepala madrasah selalu menempatkan semua bawahan apa yang
harus menjadi wewenang bahwannya. Sehingga apa yamg suda menjadi tugas dan
tanggung jawab bawahan itu sendiri dapat terealisasikan dengan baik.
b.
Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan Seperti yang
suda dijelaskan pada bagian pertama, artinya dapat terjalin sebuah pembagian
tugas yang efektif, sehingga kepala madrasah merasa tidak hanya memikul beban
tugas secara sendirian tetapi ada pemerataan tugas yang dilaksanakan oleh
seluruh komponen yang ada di madrasah.
c.
Keputusan dan kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan Selalu
menerima saran dan tanggapan dari bawahan saat rapat dan forum lainnya. Ini
dibuktikan dengan selalu membuka sesi atau bagian tanya jawab dalam pelaksanaan
musyawarah badan mufakat yang dilakukan sehinggga apapun hasil dari rapat atau
musyawarah tersebut dapat diterima dengan baik oleh semua anggota rapat
tersebut dan tidak ada kesan yang menjurus pada pemaksaan kehendak yang
dilakukan oleh kepala madrasah ataupun tidak terjadi pengambilan keputusan
secara sepihak.
d.
Interaksi aktif antara pimpinan dan pegawai serta antar pegawai itu sendiri.
e.
Selalu melakukan musyawarah dan mufakat, dan tidak pernah mengambil keputusan
secara sepihak. Sehingga komunikasi yang terjalin terjadi secara timbal balik,
baik yang terjadi antara pimpinan dan bawahan maupun sesama bawahan. Ini
merupakan sebuah budaya baru yang diterapkan oleh kepala madrasah sebagai
pemegang otorias tertinggi di madrasah.
f.
Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan
dilakukan secara wajar Memberikan teguran yang membangun dari tidak menyakiti
hati bawahan, contohnya jika ada bawahan yang terlambat tidak langsung ditegur
dengan keras tetapi diberikan pengertian dan pembinaan yang membangun sehingga
bawahan tidak sakit hati dan dapat dengan mudah memperbaiki kesalahannya dengan
baik.
g.
Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan Kepala madrash selalu
memberikan kesempatan kepada bawahan untuk menyampaikan prakarsa sehingga
gagasan cermerlang tidak hanya lahir dari pemimpin. Sehingga dengan adanya
saran tersebut mungkin ada hal-hal yang terlewatkan dan dilupakan oleh kepala
madrasah dapat dilakukan secara bersama-sama dengan langkah-langkah yang
efektif.
h.
Peluang sangat terbuka lebar bagi para pegawai dalam memberikan saran atau
opini; Pekerjaan yang ditugaskan kepada pegawai tidak bersifat perintah,
melainkan amanat.
i.
Selalu menerima saran dan tanggapan dari bawahan saat rapat dan formum lainnya.
Sehingga bawahan merasa dihargai dan ditanggapi dalam penyampaian gagasan dan
masukan kepada pemimpin. Dan yang paling besar efek yang dirasakan pada sikap
ini adalah terjalin sifat saling menghargai dari semua komponen yang ada di
madrasah.
j.
Saling percaya, menghargai dan menghormati setiap tindakan yang dilakukan oleh
pimpinan maupun pegawai.
k.
Percaya dan menghormati semua yang dilakukan oleh bawahan sehingga bawahan
tidak pernah takut menyampaikan gagasan. Kepercayaan yang dibangun ini akan
melahirkan sifat percaya diri bagi pemimpin sehingga bawahan tidak risih atau
sungkan untuk melakukan tugas dan fungsinya dalam madrasah.
Source: Badu, Syamsu Q, and
Novianty Djafri, Kepemimpinan & Perilaku Organisasi, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar