A. Kepemimpinan
Pemimpin
adalah individu yang memimpin, dan kepemimpinan merupakan sifat yang harus
dimiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan ialah kemampuan untuk
mempengaruhi manusia dalam melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Para ahli
memberikan deinisi kepemimpinan, antara lain:
a.
Miftah Thoha menyatakan “kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi
perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku manusia, baik perseorangan
maupun kelompok.”
b.
Hadari melihat kepemimpinan dari dua konteks yaitu “struktural dan
nonstruktural. Dalam konteks struktural kepemimpinan diartikan sebagai proses
pemberian motivasi agar orang-orang yang dipimpin melakukan kegiatan dan
pekerjaan sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Adapun dalam konteks
nonstruktural kepemimpinan dapat diartikan sebgai proses mempengaruhi pikiran,
perasaan, tingkah laku, dan mengerahkan semua fasilitas untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan bersama”.
c.
Tanembaum dan Massarik menjelaskan “kepemimpinan adalah suatu proses atau
fungsi sebagai suatu peran yang memerintah”.
d.
Harold Kontz mendeinisikan kepemimpinan sebagai “pengaruh, seni atau proses
mempengaruhi orang sehingga mereka akan berusaha mencapai tujuan kelompok
dengan kemauan dan antusias”.
e.
Frigon mengungkapkan “leadership is the art and sciene of getting others to
perform and achieve vision”.
f.
Nanus berpendapat “leadership role in policy formation has a solid foundation
in practice and is safely short of usuring a governing broad’s prerogrative in
establishing policy”.
g.
Overton menyatakan“leadership is ability to get work done and through others
while gaining then conidence and cooperation”.
Berdasarkan
deinisi-deinisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah upaya
untuk mempengaruhi orang lain dengan memberikan dorongan dan bimbingan dalam
bekerjasama untuk mengejar tujuan yang telah disepakati bersama.
B. Kekuasaan
Miriam
Budiardjo (2002) berpendapat “kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan oleh
seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan
kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi
kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk
mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari
pelaku”. Ramlan Surbakti (1992) juga menyebutkan bahwa “kekuasaan merupakan kemampuan
mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak
yang mempengaruhi”. Lebih lanjut, Robbins dan Judge (2007) mengungkapkan
“kekuasaan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perilaku orang lain,
sehingga orang lain tersebut akan berperilaku sesuai dengan yang diharapkan
oleh orang yang memiliki kekuasaan”.
Pengertian
kekuasaan secara umum adalah “kemampuan pelaku untuk mempengaruhi tingkah laku
pelaku lain sedemikian rupa, sehingga tingkah laku pelaku terakhir menjadi
sesuai dengan keinginan dari pelaku yang mempunyai kekuasaan” (Harold D.
Laswell, 1984:9). Kekuasaan berbasis kedudukan terdiri atas wewenang formal,
peninjauan terhadap sumber daya dan kompensasi, peninjauan terhadap sanksi,
informasi dan peninjauan ekologis. Di sisi lain, kekuasaan pribadi diperoleh
dari keahlian dalam pekerjaan, pertemanan, kesetiaan, kemampuan persuasif dan
karismatik dari pimpinan (Gary Yukl,1996:167- 175). Dengan bahasa yang sedikit
berbeda, Kartini Kartono (1994:140) mengungkapkan “sumber kekuasaan seorang
pemimpin dapat berasal dari kemampuannya untuk mempengaruhi orang lain; Sifat
dan sikapnya yang unggul, sehingga mempunyai kewibawaan terhadap pengikutnya;
a) Memiliki informasi, pengetahuan, dan pengalaman yang luas; b) Memiliki
kemahiran human relation yang baik, kepandaian bergaul dan berkomunikasi”. Kipnis
dan Schmidt merupakan peneliti pertama mengkaji strategi-strategi yang sering
diaplikasikan untuk mempengaruhi orang lain. (Kipnis dan Schmidt, 1982).
“Berbagai alat ukur telah dibuat untuk meneliti taktik mempengaruhi, dan salah
satu yang terbaik adalah yang dibuat oleh Yukl dkk, yaitu yang disebut Inluence
Behavior Questionnaire” (Yukl, Lepsinger, and Lucia, 1992).
Source: Badu, Syamsu Q, and
Novianty Djafri, Kepemimpinan & Perilaku Organisasi, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar